Senin, 28 Mei 2012

Ndolalak



     Ndolalak nama sebuah tarian asli khas Purworejo ini. Nama Ndolalak diambil dari dominannya notasi nada do-la-la yang dinyanyikan serdadu Belanda untuk tarian dansa mereka. Ketika pertama kali tercipta, tarian Ndolalak tidak diiringi dengan peralatan instrumen musik, namun menggunakan nyanyian yang dilagukan oleh para pengiringnya. Lagu-lagu yang dicipta biasanya bernuansakan romantis bahkan ada yang erotis. Nyanyian tersebut dinyanyikan silih berganti atau terkadang secara koor bersama. Dalam perkembangannya, iringan musik tarian Ndolalak menggunakan instrumen musik jidur, terbang, kecer, dan kendang. Sedang untuk iringan nyanyian menggunakan syair-syair dan pantun berisi tuntunan dan nasihat. Isi syair dan pantun yang diciptakan merupakan campuran dari bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sederhana. Untuk kostumnya, penari Ndolalak mengenakan layaknya pakaian serdadu Belanda, yaitu pakaian hitam dengan pangkat di pundaknya, topi pet, dan kacamata hitam. Tarian Ndolalak semula ditarikan oleh para penari pria. Namun dalam perkembangannya, sejak tahun 1976 Ndolalak ditarikan oleh penari wanita. Kini hampir di tiap grup Ndolalak di Purworejo semua penarinya adalah wanita. Jumlah penarinya antara 10-14 orang dengan pengiring musiknya 10 orang. Waktu pementasan bisa semalam suntuk. Disaat pertunjukan biasanya salah satu penari ndolalak kesurupan. Kalau sudah kesurupan Penari ini akan menari sendiri di panggung menjadi pusat perhatian. Dia akan meminta segala macam sesaji, dari makan bunga, beling dan lain sebagainya.
    Tapi karena perkembangan Dakwah Agama Islam yang semakin pesat, saat ini Tari ndolalak sudah jarang tampil, karena selain yang berbau kesyirikan juga pakaiannya yang tidak sesuai yaitu celana pendek yang jauh dari lutut. Saat ini seringnya hanya ditampilkan dalam acara-acara tertentu, dengan tanpa ada yang kesurupan, dan pakaian lebih sopan.

Inspirasi: http://www.purworejokab.go.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar